Jumat, 25 April 2008

Acara TV di indonesia Masih Miskin Tayangan Tentang Perjuangan Islam

Ketua UmumGerakan Persaudaran Muslim Indonesia (GPMI) menyambut baik mengudaranya stasiun Televisi Al-Manar pada awal bulan April di Indonesia, dan diharapkan kehadiran televisi ini mampu memberikan informasi yang sesungguhnya tentang perjuangan yang dilakukan oleh umat Islam di wilayah Timur Tengah, terutama Palestina.

"Kalau memang begitu ya sangat bagus sekali, karena informasi yang kita dapatkan akan semakin jelas. Televisi yang ada saat ini kan masih sangat miskin tentang informasi perjuangan Islam, " ujarnya kepada Eramuslim menanggapi mengudaranya Al-Manar di Indonesia pada April 2008.

Mengenai anggapan TV Al-Manar sebagai agen teroris, menurutnya, ketakutan seperti itu memang tidak bisa dicegah, namun yang terpenting adalah pembuktiannya, bahwa tuduhan tersebut tidak benar.

Sebagai bagian dari visi dakwah, Gogon mengatakan, yang terpenting televisi ini dapat menyampaikan informasi secara jelas, dan mengungkapnya dengan sangat transparan.

"Mungkin yang menjadi ketakutan mereka (AS dan Israel), kejahatan ataupun pelanggaran HAM yang mereka lakukan akan terbngkar, ya memang itu gak bisa dibatas-batasi, " tandasnya.

Sebelumnya, Anggota Komisi VIII DPR DH Al-Yusni menduga, kontroversi kehadiran TV Al-Manar di Indonesia itu dihambuskan oleh agen-agen zionis Israel.

"Saya kira mereka pantas gerah, karena TV Al-mnar sering menampilkan kekerasan yang dilakukan Israel, orang indonesia perlu berita yang berimabng, bukan hanya dari CNN atau sumber-sumber Barat lainnya, " jelasnya.

Seperti diketahui, lanjutnya, bahwa kebanyakan owner media-media barat itu orang-orang Yahudi, sehingga sampai saat ini media Barat jarang sekali memberitakan penderiataan kemanusiaan di jalur Gaza akibat aksi embargo Barat dan Israel, dan juga aksi-aksi terorisme Israel.

Selasa, 22 April 2008

Film Bertema Islam, Tak Perlu Tunggu Bulan Ramadhan

Kerinduan umat Islam terhadap film bernuansa religi sepertinya mulai terobati, karena memang pada dasarnya kehidupan manusia itu tidak bisa terlepas dari kepercayaan, yang diaplikasikan dalam kehiudpan sehari-hari.

"Kita lihat film-film barat atau Amerika, selalu ada nuansa natal diujung ceritanya. Kenapa Islam kok harus menunggu Ramadhan baru bikin, gak ada film-film besar yang tidak harus menunggu Ramadhan, lalu ujungnya hari raya, gak ada, " ungkap Ustadz Jefri Al-Bukhori menanggapi booming film bertema Islam.

Menurutnya, gebrakan yang sudah dilakukan oleh film Ayat-ayat Cinta yang kemudian dilanjutkan oleh film Kun Fayakuun harus ditanggapi dengan rasa bangga, terlepas dari kekurangan dan kelebihannya.

Jika sebagaian orang mengganggap film tersebut tidak Islami, Ustadz Jefri yang akrab disapa Uje itu mengatakan, film Islam itu sebenarnya tidak harus Islami, masih ingat Catatan Si Boy, dalam film itu syariat Islamnya masih ada, ketika memperlihatkan sosok anak muda yang selalu menjaga sholat lima waktunya.

"Saya lagi ngobrol dengan beberapa teman, yok bikin film yang seperti Virgin tapi dengan syariah, artinya tidak berhenti pada contoh yang buruk, tapi juga jangan terlalu sholeh film itu, karena akan menimbulkan kesan tidak wajar, " jelasnya.

Ia menyatakan, apa yang terjadi kehidupan orang tentunya melalui proses, begitu juga kehidupan beragamannya, tidak semuanya sama. Lebih banyak orang yang berproses ketimbang yang Istiqomah, kalau langsung menyampaikan yang Istiqomah akan berat.

"Ya mereka gak janjian kok, Kun Fayakuun gak janjian, Ayat-ayat Cinta gak janjian, nanti ada lagi Mengaku Rasul gak janjian, semua bertahap dan berproses, " imbuhnya.

Uje menambahkan, ke depan bersama dengan beberapa ustadz lainnya, dirinya sedang memikirkan untuk membuat 'Neo Sunan Kalijaga'.

"Kita kumpulkan Ustadz-ustadz, sembilan orang dakwah dengan karakternya dan masalahnya masing-masing. Kita akan membuat yang manusiawi, " pungkasnya.

Film Bertema Religi Diminati Pejabat

Pada Jum'at pekan lalu, beberapa menteri Kabinet Indonesia Bersatu, yakni Menpora Adhyaksa Dault, Menkominfo Muhammad Nuh, Mentan Anto Apriyantono, Menteri PU Djoko Kirmanto danMenhut MS Kaban bersama jajaran pejabat dan pegawai departemennya secara bergantian, datang menonton pemutaran perdana Kun Fayakuun film garapan sutradara H. Guntur Novaris itu di bioskop 21 Plaza Senayan.

Menpora Adhyaksa Dault mengatakan, kehadirannya dalam pemutaran film itu sebagai bentuk dukungan terhadap kehadiran film-film yang memberikan pencerahan.

dan tentunya mudah-mudahan film yang di buat benar2x bertujuan untuk memberikan nilai-nilai keislaman yang benar dan bukan untuk bisnis semata2x.

sumber : eramuslim.com

KPI Pusat Ingatkan Stasiun TV untuk Turunkan Iklan 'Ki Joko Bodo'

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat secara tegas mengingatkan stasiun TV agar menurunkan iklan Ki Joko Bodo. Sesuai dengan surat No: 174/K/KPI/04/08 yang dikirimkan KPI Pusat tanggal 10 April 2008 lalu, KPI Pusat telah meminta kepada semua stasiun TV untuk menghentikan tayangan iklan Ki Joko Bodo.

Namun, setelah tujuh hari keluarnya surat tersebut, KPI Pusat mengeluarkan kembali surat peringatan ini karena masih ditemukan stasiun televisi yang menayangkan iklan supranatural tersebut. Berdasarkan pengamatan KPI Pusat, iklan Ki Joko Bodo dinilai telah mengabaikan nilai agama karena menjanjikan dapat mengubah nasib seseorang.

"Sesuai dengan pasal 36 ayat 6 UU Penyiaran 2002, tercantum bahwa isi siaran dilarang memperolokkan, merendahkan, melecehkan dan/atau mengabaikan nilai-nilai agama, martabat manusia, atau merusak hubungan internasional. Dan, kemudian pasal 46 ayat 3 (d) yang menyebutkan bahwa siaran iklan niaga dilarang melakukan: hal-hal yang bertentangan dengan kesusilaan masyarakat dan nilai-nilai agama, " jelas Anggota Bidang Pengawasan Isi Siaran KPI Pusat Sasa Djuarsa Sendjaja, dalam siaran persnya.

Selain itu, KPI Pusat juga meminta kepada seluruh stasiun TV untuk memindahkan penayangan iklan yang terkait dengan disfungsi kelemahan seksual pria dan iklan kondom yakni On Clinic dan Bluemoon menjadi di atas pukul 22.00 waktu setempat sesuai dengan ketentuan dalam P3 dan SPS.

Ia menegaskan, apabila pihak stasiun TV tidak mengindahkan surat peringatan itu, sementara KPI Pusat masih melihat dan mendengar pengaduan dari masyarakat, maka KPI Pusat akan meneruskan pengaduan masyarakat ini kepada pihak yang berwajib.

TV Al-Manar Penyeimbang Informasi dari Media Barat

Pengamat Timur Tengah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hamdan Basyar menyatakan kehadiran stasiun Televisi Al-Manar dapat memberikan keseimbangan informasi mengenai konflik di Timur Tengah khususnya Palestina, yang selama ini hanya diperoleh melalui media barat.

"Kehadiran TV Al-Manar yang mendukung Palestina, bisa memberikan gambaran yang berbeda, yang selama ini kita lihat dari CNN, Reuters maupun AP, serta media barat lainnya, " ujarnya menanggapi mengudaranya Al-Manar di Indonesia pada April 2008.

Menurutnya, adanya tayangan-tayangan melalui TV Al-Manar akan menghasilkan informasi yang berimbang kepada bangsa Indonesia, dan ini tentunya akan menjadi pengetahuan tambahan bagi Indonesia.

Hamdan meyakinkan, kehadiran TV Al-Manar tidak akan berpengaruh pada kebijkan politik Indonesia, ataupun membuat terjebak dalam polemik Sunni dan syiah, karena umat Islam di Indonesia sudah semakin cerdas.

"saya kira polemik Sunni-Syiah telah mereda, contohnya soal Iran yang dikenal sebagai Syiah, tapi muslim Indonesia sangat mendukung Presiden Iran, " jelas Pengamat Islam dan Kajian Timur Tengah itu.

Ia juga menambahkan, bukan sesuatu yang baru lagi, apabila sebuah media mempunyai misi untuk mendukung sebuah gerakan, seperti hal TV Al-Manar yang mendukung perjuangan rakyat Palestina.

Sebelumnya, Anggota DPR Komisi I Ali Mochtar Ngabalin mengatakan, keberadaan TV Al-Manar tidak berbeda dengan televisi asing lainnya, sepanjang tidak bertentangan dengan demokrasi atau berisi fitnah, kemunculannya di Indonesia tidak menjadi masalah.

"Saya sebagai anggota DPR bisa menerima, TV asing kan bisa melakukan penyiaran sepanjang tidak bertentangan dengan asas demokrasi, ya sah-sah saja, " katanya.

Menurutnya, ukuran kelayakan atau sebuah siaran di Indonesia sudah ditangani secara independen oleh Komisi Penyiaran Indonesia.

Al-Manar bisa mengudara dengan menggandeng Satelit Palapa C2 yang sahamnya dimiliki Indosat. Amerika Serikat menuding TV tersebut membawa misi teroris. Namun tudingan itu dibantah oleh pihak Al-Manar.

Perwakilan TV Al-Manar untuk Indonesia Ali Assegaf menjelaskan, TV Al-Manar merupakan stsiun TV yang bersifat umum, membawa nilai-nilai Islam yang universal, dan acara yang ditampilkan pun hampir sama dengan TV swasta di Indonesia.

sumber : eramuslim.com

Kamis, 10 April 2008

semakin besarnya aksi propaganda-propaganda oleh media televisi dalam menjerumuskan masyarakat dan generasi mendatang maka, sudah saatnyalah bangsa ini memiliki sebuah kontra kebobrokan akhlakdan kebodohan berupa media televisi islam nasional. dimana nantinya dapat mengimbangi acara2x televisi yang tidak mendidik dan tidak berpihak kepada umat islam...

ya, mau sampai kapan umat ini harus terus di cekoki oleh tayangan-tayangan televisi yang tidak berpihak kepada akhlak.. tidak mendidik .. dan selalu menyebarkan permusuhan dan fitnah!! selama ini prosentase acara televisi itu sebagian besar semata-mata hanya untuk meraih keuntungan besar bagi segilintir orang tanpa mempedulikan dampaknya.


Mukaddimah

Segala puji bagi Allah SWT, hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan perlindungan. tiada daya dan upaya kecuali atas pertolongan-Nya.. Shalawat dan salam semoga tercurah kejunjungan kita, qudwah hasanah bagi kita Nabi besar Muhammad SAW.

Assalamu 'alaikum warrahmatullahi wabarakaatu..


Wahai para umat Nabi Muhammad SAW yang di rahmati oleh Allah SWT... di blog ini adalah tempat untuk siapa aja yang menginkan acara-acara / hiburan di televisi yang punya sisi pendidikan yang positif dan bermanfaat bagi anak-anak sampe orang2x tua,
dari sini saya mengharapkan peran serta dari para pengunjung/blogger untuk memberikan ide, masukan, pengalaman, atau apa aja dech tentang potret media televisi di negeri ini dan memberikan solusi yang terbaik tentang tayang2xan televisi baik itu berita, sinetron, film, kartun, Games, iklan, dll .. yang bener2x ngga melanggar nilai-nilai Syariah sehingga berguna bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara berdasarkan sendi2x keislaman.

Potret Media di Negeri kita

Tayangan televisi akhir-akhir ini yang banyak menonjolkan adopsi perilaku dan norma bangsa barat akhirnya mendapat kritikan dari Wakil Presiden M Jusuf Kalla. Jusuf Kalla menyatakan bahwa tayangan televisi Indonesia selama ini banyak menyiarkan program yang tidak baik. Wapres mencontohkan banyaknya berita kekerasan, selain itu tayangan sinetron berbau seks, mistis dan juga kekerasan, yang disaksikan ratusan juta masyarakat Indonesia.

Menurut hitungan KPI, tambahnya, setidaknya 75 persen penduduk Indonesia setiap harinya menyaksikan siaran televisi. Artinya dari 220 juta penduduk ada sekitar 150 juta orang setiap hari menyaksikan televisi.

"Jadi 150 juta orang matanya memelototi televisi. Artinya tiap malam tergantung apa yang diproduksi oleh televisi kita, " katanya saat menghadiri puncak acara Penghargaan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) di Jakarta, Selasa.

Karena itu, lanjut Wapres, jika televisi terus menerus memproduksi kekerasan dan ketakutan, tentu akan menghasilkan kekerasan dan ketakutan juga. Ia mengharapkan agar tayangan yang dihasilkan adalah yang memberikan nilai positif.

"Tentu yang kita harapkan berita yang sehat walaupun tetap kritis. Tayangan yang menarik bukan yang membikin ketakutan, " kata Wapres.

Dalam kesempatan itu, Wakil Presiden mengajak insan televisi Indonesia menghasilkan karya-karya yang bermutu baik dan positif, yang enak ditonton, karena tayangan televisi yang bermutu baik itu akan meningkatkan kemajuan bangsa.

"Ciptakan tayangan-tayangan yang positif, karena hanya dengan berfikir positif bangsa ini akan maju, " imbau.

Ia mengingatkan para pengusaha di bidang pertelevisian, jika yang ditayangkan adalah yang ciptakan ketakutan, justru akan mematikan industri televisi itu sendiri. Karena akan membuat orang luar takut berinvestasi ke Indonesia. Dan pada gilirannya investasi tidak akan berkembang, karena tidak adanya iklan.

"Saya sependapat bahwa tayangan yang baik juga enak ditonton. Marilah kita berlomba-lomba dalam kebaikan, " imbuhnya.

Penghargaan KPI diberikan dalam lima kategori yakni talkshow, dokumenter, sinetron, berita, dan tayangan anak-anak.(novel/ant)

sumber : eramuslim.com